DINAS PENDIDIKAN DAYAH ACEH

Syia'r dalam Sepetak Tanah Perbatasan

Kategori : Rangkang Selasa, 12 Februari 2019 - Oleh rizafazzil

 

Gelombang waktu terus bergerak dengan cepat mengendus sendi-sendi kehidupan. tidak ada yang dapat memprediksi secara pasti, sejauh mana dan sedahsyat apa hantaman yang akan dihadapi oleh generasi yang akan datang.

Ada sendi yang krusial yang menjadi kekhawatiran kita bersama yaitu sendi agama, yang pondasi dasarnya aqidah dan akhlak, yang merupakan ruhnya Islam yang harus terus-menerus dipahat oleh setiap kita yang memeluknya.

Sebagai orang Aceh sejatinya kita patut berbangga, karena pada masa yang lampau, para leluhur telah menitipkan kepada kita sebuah format yang rapi, dalam wujud pendidikan yang berbasis Islam dengan sebutan dayah.

Seiring waktu berjalan, dayah terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman, yang hingga hari ini dayah telah telah menjadi trend pendidikan khas Aceh, yang hampir serupa daya saingnya dengan lembaga pendidikan konvensional.

Eksistensi dayah yang makin menguat, tidak terlepas dari peran seluruh masyarakat Aceh dengan dukungan penuh pemerintah, melalui Dinas Pendidikan Dayah (DPD) Aceh. Melalui DPD syia'r dalam bentuk pendidikan Dayah terus berbenah, hingga saat ini ada empat dayah yang letaknya diperbatasan di bawah binaan DPD Aceh.

Namun ke empat- empatnya, masih ada sangkut paut di sana sini yang mesti segera diluruskan, supaya dengan kewenangan yang dimiliki DPD Aceh, dayah-dayah tersebut mendapatkan haknya dan perhatian secar penuh sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.

Berkat arahan Plt. Gubernur Aceh, Dinas Pendidikan Dayah Aceh terus mengkonsolidasikan tertib Aset ke empat Dayah Perbatasan yaitu, Dayah Perbatasan Manarul Islam Aceh Tamiang, Dayah Perbatasan Darul Amin Aceh Tenggara, Dayah Perbatasan Safinatussalamah Aceh Singkil, dan Dayah Perbatasan Minhajussalam Subulussalam.
Ke empatnya, tenyata meimiliki status yang beragam. Setelah melakukan sederetan proses konsolidasi, Pada hari Kamis 7 Februari 2019, Kadis Pendidikan Dayah Aceh mulai bergerak menuju Dayah Perbatasan Manarul Islam Aceh Tamiang, yang sebagai mana diketahui dayah tersebut dalam 10 tahun belakanga berada dibawah kepemilikan pemerintah kabupaten setempat, dengan kepemilikan tanah atas nama PT. Socfindo.

Prosesnya pun tidak terlihat begitu berliku-liku, ibarat hanya menunggu waktu, Manajemen PT Socfindo mengkonfirmasi dalam waktu singkat ke depan akan segera melepaskan areal seluas 5 hektar tersebut untuk menjadi aset Pemerintah Aceh.


Setelah pertemuan dengan pihak PT. Socfindo selsai, Pak Kadis yang akrab disapa Usamah, langsung tancap gas menuju Aceh Tenggara melalui Medan. Meskipun harus menempuh perjalanan dengan menanntang, rasanya lelah lasung terlipu lara, kenapa tidak, kabar mengembirakan juga datang dari Aceh Tenggara.

Keesokan hari (8/9), Raidin Pinim, Bupati Aceh Tenggara melakukan pertemuan dalam rangka penyerahan aset Dayah Darul Amin Aceh Tenggara, kepada Pemerintah Aceh, melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh. Acara yang berlangsung di ruang kerja bupati tersebut, juga ikut dihadiri oleh sejumlah pejabat terkait diantaranya, Kepala Dinas Pertanahan Aceh Dr Edi Yandra, Kepala UPTD Dinas Pendidikan Dayah Aceh Drs Sahlan M Dian, Kepala UPTD Dayah Aceh Tenggara, Samri S. Ag, Rais ‘Am Dayah Perbatasan Darul Amin Aceh Tenggara, Abuya Mukhlisin Desky, Kepala Baitul Mal Aceh Tenggara Tgk Hamdani S.Pd. I, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tenggara Bakri Saputra, S. Pd. I.

Acara serah terimaaset tersebut, tidak hanya memercik rasa gembira bagi yang menanti momement tersebut, rasa berbunga – bunga juga dirasakan oleh Bupati Aceh Tenggara. “ semoga tanah yang diserahkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan Ummat. Kami mendukung penuh upaya-upaya untuk Pengembangan Dayah di Aceh Tenggara,” harap Pak Bupati dengan penuh dukungan.

Tak ayal, Usamah menyembut gembira apa yang dilakukan oleh pak bupati, yang menurutnya patut diberikan apresiasi.”Kabupaten Aceh Tenggara adalah yang pertama menyerahkan aset tanah dayah kepada Pemerintah Aceh, ini bentuk keseriusan Bupati Raidin Pinim dan jajaran nya dalam memajukan pendidikan Dayah di Aceh Tenggara, untuk itu mewakili Pemerintah Aceh saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas respon cepat dan gerak cepatnya,” ujar Kadis Dayah Aceh itu bersemangat.

Sekarang, tinggal menunggu dua daerah lagi, yang kemungkinan tidak akan melalui proses yang begitu berliku. Untuk masa depan dayah, tentunya sepetak tanah di perbatasan bukanlah segala-galanya, namun kita berharap dari tanah sepetak ini, syia'r Islam di perbatasan dapat menyempurnakan nama harum Bumi Serambi Mekah.()