DINAS PENDIDIKAN DAYAH ACEH________________________MARI KITA SUKSESKAN PENYELENGGARAAN MUSABAQAH QIRAATIL KUTUB (MQK) TINGKAT PROVINSI ACEH TAHUN 2019

[Opini] Belajar Dari Keteladanan Abu BUDI Lamno

Kategori : Government Selasa, 18 September 2018 - Oleh bppd

Oleh Mirza Ferdian*)

Jam menunjukkan Pukul 06.00 WIB, matahari masih tampak malu-malu memancarkan sinarnya, suasana jalanan kota Banda Aceh Masih sepi dari lalu lalang kendaraan, yang tampak ramai adalah Warkop yang diisi oleh Para pejuang jamaah shubuh, Toyota Fortuner VRZ abu-abu Keluaran Tahun 2016 itu bergegas meninggalkan kota Banda Aceh. Sampai ke daerah Lhoknga kondisi jalan sudah mulai lebar dan tracknya pun panjang, sang sopir terlihat lebih leluasa berkemudi.

Kami berniat menuju ke Dayah BUDI Mesja di Lamno Aceh Jaya dalam rangka HAUL Abu BUDI yang XXI. Kadis Pendidikan Dayah Provinsi Aceh Usamah El-Madny ditunjuk hadir dalam acara HAUL untuk Mewakili Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah. Selain itu sang kadis memang sudah punya keinginan untuk berkunjung ke Dayah BUDI untuk bersilaturrahmi dengan Aba Asnawi ulama kharismatik Aceh yang saat ini merupakan pimpinan Dayah BUDI Mesja Lamno dan juga untuk melihat kondisi Dayah BUDI.

45 menit perjalanan kami sampai di Gunung Geurutee, semilir angin dan hawa sejuk mulai terasa ke dalam kabin mobil, Pulau Keluang menjadi pemandangan indah yang bisa kami nikmati di antara warung-warung pelepas lelah di samping jalan Geurutee. Pantai Barat Selatan memang banyak terdapat pantai yang indah, suatu anugrah sendiri bagi yang bisa menikmati, ciptaan Allah memang tiada tandingannya.

Tak terasa kami telah sampai di dayah yang didirikan oleh Teungku Ibrahim Bin Ishaq (Abu BUDI) Pada tahun 1967 ini, letak dayah tak jauh dari Kuala Daya lebih kurang 4 KM Jaraknya. Di atas Bukit Kuala Daya, terdapat Makam Sultan Alaiddin Riayat Syah atau Po Teumeurehom Raja Pertama Kerajaan Lamno Jaya. Abu BUDI lahir di Gampong Meukhan Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Barat (sekarang Aceh Jaya), mendirikan Dayah BUDI pada saat beliau berumur 31 tahun, tentu dengan ilmu yang sudah sangat memadai.

Riwayat Pendidikan Sang Mursyid

Guru pertama Abu Ibrahim Lamno adalah Abu Ramli yang kemudian menjadi salah seorang sesepuh Yayasan Dayah BUDI pada awal pendiriannya, bahkan putra pertama beliau kini menjadi pimpinan dalam organisasi kepengurusan Yayasan Dayah BUDI, yang akrab disapa dengan sebutan Aba Asnawi.

Pada tahun 1946 di awal kemerdekaan, Abu BUDI tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengisi kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah dari tangan penjajah, beliau belajar pada sekolah rakyat (SR) di Gampong Kuala Daya selama dua tahun, lalu pindah ke SR lamno dan sekaligus mondok di Pesantren Bustanul Aidarusiyah. Di usia yang begitu muda, terlihat semangatnya untuk mendalami ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum.

Setelah menempuh pendidikan dasar empat tahun di lamno, pada tahun 1949 Abu BUDI menuju Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan yang saat itu di pimpin oleh Abuya Syech Muhammad Waly AL-Khalidy. Abu BUDI belajar di Labuhan Haji selama 8 tahun lamanya. Walaupun sudah terasa lama beliau belajar, namun Abu BUDI masih saja haus akan ilmu pengetahuan dan berkeinginan kuat untuk belajar lagi di dayah.

Pada Tahun 1959, Abu BUDI berangkat ke Dayah MUDI MESRA Samalanga yang dipimpin oleh Tgk H Abdul Aziz atau akrab disapa Abon Samalanga. Empat Tahun Lamanya beliau menela’ah kitab-kitab tanpa baris di Dayah MUDI.

Rupanya ilmu pengetahuan terasa sangat lezat bagi Abu BUDI, semangat belajarnya sangat tinggi, sehingga tahun 1963 melanjutkan lagi Pendidikan Tarbiyah Islamiyah di bawah Asuhan Tgk. Zakaria Labaisati, lembaga pendidikan tersebut terletak di Gampong Malalo, Padang Panjang Provinsi Sumatra Barat, pada tahun 1967 beliau mengakhiri belajar di lembaga pendidikan yang bertepian dengan Danau Singkarak itu. Setelah merasa cukup apa yang beliau pelajari, pada tahun itu juga beliau pulang ke Lamno dan mendirikan Dayah BUDI Mesja. Hal ini hendaknya menjadi pelajaran dan inspirasi bagi santri dan santriwati yang sedang menimba ilmu di dayah.

Leadership

Selama beliau memimpin Dayah BUDI, totalitas adalah hal yang utama bagi beliau, Dayah BUDI terkenal hingga kemana-mana, hal ini dapat dilihat dengan sejumlah Santri dan Santriwati yang belajar di Dayah BUDI, mereka datang dari berbagai pelosok di Indonesia dan negeri jiran Malaysia.
Abu lamno juga diketahui sebagai ulama yang banyak mencetak kader ulama.

Beberapa ulama yang merupakan hasil didikan Abu lamno antara lain: Tgk. H. Asnawi Ramli Pimpinan Dayah BUDI sekarang ini sebagai pengganti Abu Ibrahim Lamno, Drs. Tgk .H. Mukhtar Wahab Pimpinan Dayah Darussa’adah Teupin Raya Pidie, Tgk. H. Anwar Pimpinan Dayah Miftahul’Ulum Tanoh Mirah Aceh Utara, Tgk. Hasballah Ali Pimpinan Dayah Darutthalibin Nisam Aceh Utara, Tgk. H. M . Jamil Ibrahim Pimpinan Dayah Jeumala Amal Lueng putu pidie, Tgk. H . Athailah Ishaq Pimpinan Dayah Yayasan Ulee Titie Siron Aceh Besar, Tgk. Walidin Pimpinan Dayah RUDI Tanah Luas Aceh Utara, Tgk. Usman Ishaq Pimpinan Dayah NUDI Meurah Mulia Aceh Utara, Tgk. H. Bukhari Pimpinan Dayah BUDI Muthmainnah Ulee Kareng Banda Aceh, Tgk. Muhammad Yunus Pimpinan Dayah Miftahul Jannah Woyla Induk Aceh Barat dan masih banyak lagi ulama-ulama lain yang dididik oleh beliau dan hampir dapat dipastikan mereka telah menjadi pimpinan dayah di seluruh pelosok Aceh.

Inilah yang juga kita harapkan dari dayah di Aceh yaitu melahirkan alumni-alumni yang berkualitas yang akan mengambil alih tongkat estafet pembangunan Aceh di segala bidang.

Perekonomian Dayah

Dalam memimpin dayah, Abu BUDI tidak hanya fokus pada kualitas pendidikan, tetapi beliau juga memperhatikan perkembangan ekonomi dayah. Ini dapat dilihat dari berbagai program, kewirausahaan, perkebunan, pertanian, peternakan dan lainnya yang sempat beliau tinggalkan untuk Dayah Semasa hidup beliau. Kita sangat berharap agar pimpinan dayah-dayah di Aceh dapat mencontoh pengelolaan ekonomi Dayah dari Abu BUDI.

Banyak aset yang dimiliki oleh Abu BUDI dan itu kontribusinya untuk kemajuan dan perkembangan pendidikan dayah. Seperti yang dicita-citakan oleh Gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf yaitu terciptanya Kemandirian Dayah.

Organisatoris

Dengan kesibukannya mengurus dayah, namun Abu BUDI masih juga meluangkan waktu untuk berorganisasi yang mengurus persoalan sosial, politik dan kemasyarakatan. Tahun 1978 beliau menjabat ketua BHA (Badan Harta Agama) di kampungnya Lamno, Ketua Inshafuddin Aceh Barat dan ketua IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Lamno.
Dalam organisasi Politik, Abu BUDI pernah menjadi ketua DPC PERTI Aceh Barat, Perti merupakan sayap PPP, Abu juga pernah menjabat sebagai Ketua PPP Kabupaten Aceh Barat. Hal ini menandakan kalangan dayah tidak tertutup kemungkinan untuk terlibat dalam politik.

“Tidak mungkin kita menyerahkan cek kosong, jangan sampai kita menyerahkan keputusan-keputusan politik yang menyangkut kehidupan kita di putuskan oleh mereka sendiri tanpa berkonsultasi dengan kalangan dayah terlebih dahulu, untuk itu tidak haram jika kalangan dayah hadir dan terlibat dalam keputusan-keputusan politik, tidak tertutup kemungkinan lulusan dayah bisa menjadi bupati, walikota, gubernur, menteri bahkan presiden,” ujar Kadis Dayah Usamah El-Madny ber api-api ketika memberikan sambutan pada acara HAUL Abu Budi ke XXI.

***

Selesai acara, hujan turun membasahi tanoh mulia Meurehom Daya, Allah SWT seakan merahmati acara HAUL Abu BUDI, tampak banyak ulama kharismatik Aceh hadir di antaranya Abu MUDI Samalanga, Waled Nu Samalanga, Abati Babah Buloh, Waled Marhaban Bakongan, Abu Hasballah Keutapang dan sejumlah ulama muda lainnya. Kami bersiap untuk kembali ke Banda Aceh, banyak tugas mulia lainnya yang harus dikerjakan, hujan menemani kepergian kami dari Dayah BUDI yang saat ini memiliki 1500 orang santri.

Yang tersisa dari HAUL Abu BUDI yang ke XXI, Lamno 16 September 2018.

*)Penulis adalah pegawai Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh. Penggemar kuah beulangong dan lelaki yang sangat mencintai istrinya.

 

Sumber : aceHTrend.com

 

comments powered by Disqus