DINAS PENDIDIKAN DAYAH ACEH

Dayah Di Aceh Dalam Bingkai Riwayat

Kategori : Berita Selasa, 20 September 2016 - Oleh fitra

 

DAYAH merupakan sebutan umum masyarakat Aceh untuk lembaga pendidikan. Berasal dari kata bahasa Arab zawiyah yang bermakna sudut atau pojokan. Mula-mula, istilah zawiyah dikenal di Afrika Utara pada awal perkembangan Islam, yang dimaksud dengan zawiyah waktu itu adalah satu pojok masjid yang menjadi tempat pengajian (berkumpul- red) para ulama sufi, berdiskusi, berzikir dan beribadah di masjid.

Dari terminologi inilah, zawiyah (dayah) menjadi sebutan bagi lembaga pendidikan Islam di Aceh dari dulu hingga sekarang.

Di samping dayah, lembaga pendidikan lainnya yang dikenal dalam dunia Islam dan kemudian diadopsi oleh masyarakat Aceh adalah madrasah yang bermakna suatu tempat yang dipakai untuk proses belajar mengajar. Dalam perkembangannya, sebutan zawiyah menjadi dayah dan madrasah menjadi meunasah. Kedua lembaga ini menjadi inti peradaban dan kebudayaan masyarakat Aceh hingga saat ini.

Pada abad ke-2 Hijriyah, zawiyah sudah berkembang pesat di jazirah Arab. Salah satunya, Mesjid Jamik Damaskus memiliki zawiyah yang mengajarkan hukum Islam menurut salah satu mazhab yang empat. Selain itu, di Masjid Umaiyah Damaskus juga terdapat
delapan zawiyah. Dua diantaranya menganut mazhab Syafi’i yang diberi nama zawiyah Ghazali dan zawiyah Nasriyah.

Banyaknya ulama Aceh yang belajar ke Timur Tengah dan juga Ulama dari Arab, Mesir, Malabar, Mekkah yang datang ke Aceh telah mengembangkan pendidikan Islam dan menggunakan istilah zawiyah untuk lembaga pendidikan Islam di Aceh. Memang, tidak diketahui secara pasti dari jalur mana zawiyah pertama sekali masuk ke Aceh. Jika berdasarkan hasil seminar yang diadakan pada tanggal 25 -30 September 1980 di Rantau Panyang Peureulak, terkait masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, maka zawiyah Cot Kala
merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Aceh bahkan di Asia Tenggara. Hal ini, berdasarkan naskah tua kitab Idzarul Haq fil Mamlakatil Perlak, karangan Syekh Ishak al Makarani al Pasi yang menyebutkan bahwa Sultan Kerajaan Peureulak ke enam Teungku Muhammad Amin yang bergelar Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat sebagai pendiri Dayah Cot Kala pada awal abad ke 10 Masehi.

Dalam perkembangannya, di Aceh lahirlah dayahdayah baru seperti Dayah Seureuleu di bawah asuhan Teungku Syaikh Sirajuddin yang berdiri pada tahun 1012-1059 M, dayah Blang Peuriya yang dipimpin oleh Teungku Ja’kop pada tahun 1155-1233 M, dayah Batu Karang di Kerajaan Tamiang dibawah pimpinan Teungku Ampon Tuan, Dayah Keuneu’eun dari Kerajaan Lamuri yang dipimpin oleh Syaikh Abdullah Kan’an (Teungku Chik Lam Keuneu’eun) pada tahun 1196-1225 M, Dayah Tanoh Abee, Dayah Tiro dan dayah-dayah lainnya.

 

DAYAH MASA PERANG BELANDA – ACEH

Saat Belanda memaklumkan perang atas Kerajaan Islam Aceh Darussalam pada tanggal 26 Maret 1873 seluruh ulama dan para muridnya ikut terjun dalam medan perang guna membela agama dan mempertahankan Aceh dari serangan kaphe Holanda. Para ulama tidak hanya sekedar memimpin dayah tapi juga muncul menjadi Panglima Perang, seperti Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman yang mengobarkan semangat prang sabi melalui karya monumentalnya Hikayat Prang Sabi dan juga Teungku Chik Ismail anak dari Teungku Chik Ya’kob Pantee Geulima (Teungku Chik Pante Geulima – pendiri Dayah Pantee Geulima) bersama dengan para ulama dayah lainnya seperti Teugku Chik Leung Keubu dan Teungku Chik Kuta Glee hingga beliau syahid dalam mempertahankan Kuta Batee Iliek (Samalanga). Tidak hanya itu, Dayah Lam Krak di Aceh Besar di bawah pimpinan ulama perempuan Aceh yang terkenal Teungku Fakinah juga menunjukkan
eksistensinya untuk menentang Belanda.

Semangat para ulama dan muridnya telah membuat Belanda kalah dalam setiap pertempurannya. Hal ini, mendorong Belanda untuk menghambat sistem pendidikan dayah dengan menyebarkan pendidikan barat. Tidak hanya itu, Belanda juga menyerang dayah karena dianggap sebagai inti dari semangat pertempuran orang Aceh saat itu, dengan cara membakar dan membunuh para ulama pejuang serta membumihanguskan seluruh kitab-kitab dan manuskrip Islam Aceh. Kondisi ini membuktikan bahwa dayah tidak hanya berfungsi sebagai sentral intelektual masyarakat Aceh tapi juga mampu menjadi benteng dalam menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda di Aceh.

Pasca perang Belanda – Aceh, dayah-dayah yang terbengkalai akibat serangan Belanda kembali dibangun dan memposisikan dirinya sebagai pusat keilmuan Islam Aceh, seperti di Pidie; dayah Tiro, Dayah Pante Geulima, Dayah Cot Plieng, dayah Ie Leubee, dayah
Teupin Raya dan Dayah Meunasah Raya. Di daerah Aceh Barat, disamping membangun kembali Dayah Rumpet juga mulai membangun dayah-dayah baru seperti di Ujong Kalak dan Blang Meulaboh, Dayah Kuala Bhee Woyla dan Dayah di Peurambeu dibawah pimpinan Teungku di Tuwi. Bahkan, ketika meletusnya perang Belanda – Aceh, para ulama yang mengasingkan diri ke luar Aceh tetap melanjutkan tradisi intelektualnya dengan menyebarkan Islam di semenanjung Malaya seperti di negeri Yan di Keudah --Malaysia saat ini-- Salah satu ulama yang pernah belajar di Yan adalah Teungku Hasan Krueng Kalee.

 

DAYAH PADA ERA & PASCA KEMERDEKAAN

Setelah selesainya perang Belanda di Aceh, dayah-dayah terus berkembang dan tetap fokus dalam pengembangan Islam serta pendidikan kaderisasi dayah. Di antara dayah yang memiliki peranan penting pasca kemerdekaan adalah Dayah Kreung Kalee di Aceh Besar, di bawah pimpinan Teungku Hasan Kreung Kalee dan kemudian dilanjutkan oleh Teungku Muda Wali Al Khalidy dengan dayah Darussalam, Labuhan Haji Aceh Selatan.

Beliau adalah salah satu ulama Aceh terkenal setelah Indonesia Merdeka yang mampu mencetak kader-kader ulama di Aceh hingga saat ini. Bahkan, pada masa Orde Lama dayah memiliki peran yang sangat penting untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sehingga, Soekarno yang menjabat Presiden Indonesia saat itu datang ke Aceh guna mencari dukungan para ulama dayah untuk membantu perjuangan Indonesia dari infansi tentara NICA.

Kaderisasi ulama dayah terus berkembang, setelah meninggalnya Abuya Teungku Muda Wali Al Khalidi, tradisi keilmuan dan kaderisasi dilanjut dan diperankan oleh Dayah Ma’hadul Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga. Dayah MUDI
Mesra merupakan salah satu dayah yang berdiri pada masa Sultan Iskandar Muda dan mulai kembali berkembang di bawah pimpinan Teungku Haji Abdul Aziz bin Muhammad Saleh (Abon Aziz) yang juga alumnus Dayah Labuhan Haji, Aceh Selatan. Tidak hanya dayah MUDI Mesra, dayah lainnya juga memiliki peran yang sama dalam pengembangan agama Islam pasca kemerdekaan. Di antaranya dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI) Lamno, Aceh Barat dibawah pimpinan Teungku Ibrahim Ishak (Abu BUDI Lamno) yang juga murid dari Abuya Muda Wali Al Khalidi.