DINAS PENDIDIKAN DAYAH

Menyekolahkan Santri, Mendayahkan Sekolah

Kategori : Berita Senin, 19 September 2016 - Oleh fitra

 

Gemuruh zikir dan wirid terus menggema megah dalam komplek masjid. Tidak ada santri yang lalu-lalang dalam lingkungan pesantren,semua kusyu’ mengikuti alunan puji-pujian kepada ilahi setelah ibadah shalat Jamaah Asar usai. Teungku Bahri Ismail, sekretaris bidang pendidikan dayah menyambut kami di gerbang Pesantren yang berdiri kokoh dipinggiran lintasan nasional Banda Aceh – Medan KM 197, Gampong Blang Me Barat Kec. Jeunib Kabupaten Bireuen.

Pemuda yang sudah Sembilan tahun menimba ilmu di dayah Babussalam Al Aziziyyah ini merupakan salah satu santri dan pengajar senior di dayah. “Setelah shalat Ashar biasanya kami belajar kitab Ihya Ulumuddin sama Ayah,” kata Bahri kepada tim AceH Trend.

Ayah adalah panggilan akrab Teungku H.M. Yusuf Abdul Wahab atau juga dikenal dengan sebutan Tu Sop Jeunib, beliau Pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Dayah Babussalam Al Aziziyyah. Amanah pimpinan ini diserahkan oleh orangtua beliau Teungku Abdul Wahab bin Hasballah pada pertengahan tahun 2001, bertepatan dengan 11 Rabiul Awal 1424 Hijriyah. Ayahnya merupakan tokoh ulama Aceh yang dikenal dengan Abu Wahab Jeunib, alumnus dayah Darussalam Labuhan Haji, pimpinan Abuya Muda Wali Alkhalidi.

Dayah Babussalam Al Aziziyyah. Amanah pimpinan ini diserahkan oleh orangtua beliau Teungku Abdul Wahab bin Hasballah pada pertengahan tahun 2001, bertepatan dengan 11 Rabiul Awal 1424 Hijriyah. Ayahnya merupakan tokoh ulama Aceh yang dikenal dengan Abu Wahab Jeunib, alumnus dayah Darussalam Labuhan Haji, pimpinan Abuya Muda Wali Alkhalidi.

“Dayah ini berdiri tahun 1964 Masehi. Dulu dikenal dengan “Balee Hameh” karena pada tahun 80-an, setiap pagi Kamis selalu diadakan pengajian tingkat tinggi dan diisi oleh para ulama sepuh pesisir Aceh dibawah bimbingan Abon Aziz Samalanga dan dilanjutkan oleh Abu Tumin” jelas Tgk Bahri sembari menunjuk letak “Balee Hameh” yang sampai saat ini masih terawat rapi.

Sebagai putra bungsu dari salah seorang tokoh ulama Aceh, Ayah Sop memiliki konsistensi yang tinggi untuk membangun dayah. Hal ini terlihat jelas, dibawah asuhan jebolan terbaik di dayah MUDI Mesra Samalanga ini, dayah Babussalam Al Aziziyyah berkembang pesat dari segala lini, fikis maupun sumber daya manusianya.

“Bagi kami, dayah merupakan lembaga pendidikan yang sebenarnya. Karena di dayah, akhlak menjadi prioritas untuk dibina sehingga menjadi manusia yang bermoral nantinya. Percuma cerdas, tapi tidak memiliki akhlak yang baik” terang pengajar senior ini mantap.

Pendidikan umum, khususnya Sekolah Dasar dan Menengah yang berada dalam dayah Babussalam Al Aziziyyah ini merupakan manifestasi keilmuan guna melakukan transformasi kepada para santri dayah. “Istilah kami, menyekolahkan anak-anak dayah. Para santri yang mondok disini yang ingin bersekolah, gerbangnya selalu terbuka. Dari pada mereka sekolah diluar, kita tidak bisa menjamin lingkungannya” ungkap Tgk. Bahri.

Menariknya, walaupun tidak bisa dilepaskan dari administrasi pendidikan nasional, sekolah swasta yang bernama SD-SMP IT (SD-SMP Islam Terpadu) As-Salam Islamic School ini mengikuti alur dan manajemen dayah. Bahkan tidak terbuka untuk umum, tapi khusus untuk para santri dayah “Sekolah harus ikut dayah, bukan dayah yang ikut sekolah. Konsep inilah yang dikembangkan disini” kata Tgk. Bahri menambahkan.

Dayah yang memiliki kurang lebih 300 orang santri ini juga memiliki kaboratorium komputer, bahasa dan perpustakaan multimedia. Dengan dibantu 30 tenaga pengajar, dayah Babussalam terus berjuang dan menunjukkan eksistensinya ditengah hantaman modernisasi dan arus globalisasi.“Disini kami juga belajar teknologi dan multimedia, Alhamdulillah Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah juga pernah membuat pelatihan Jurnalistik di dayah. Sudah dua tahun, kami memiliki Radio sendiri” ungkap Tgk. Bahri.

Kehadiran dayah Babusalam Al Aziziyyah dan dayah lainnya yang serupa telah memberi warna baru dalam dunia pendidikan di Aceh. Di tengah hebatnya hegemoni teknologi dan informasi tidak membuat dayah ini termarginalkan, bahkan ia terus bergelut dengan sesuatu yang baik yang datang seiring perkembangan zaman dan akan selalu dimanfaatkan sebagai tujuan dari ilmu pengetahuan. Tidak ada dikotomi dan deferensiasi antara teknologi dan ilmu agama.

“Disini kami juga memiliki unit usaha seperti air isi ulang Yadara, Travel, Koperasi, Radio dan Mini Market. Kami bisa belajar mandiri dan berwirausaha di dayah” terang Tgk. Bahri.

Dayah yang juga memiliki rumah Hifzul Quran untuk anak-anak 10-14 tahun ini, telah menjadi salah satu contoh lembaga pendidikan yang mampu menerapkan manajemen dayah salafiyah dalam pendidikan umum. Sehingga, dominasi sistem pendidikan umum tidak terlihat dalam kehidupan dayah Babussalam Al Aziziyyah ini. Filosofi yang disampaikan oleh Teungku Bahri Ismail kepada tim AceHTrend telah menyibak asumsi bahwa dayah salafiyah atau tradisional mampu bersanding dengan sistem pendidikan nasional tanpa harus mengorbankan kepentingan dayah yang fokus pada pendidikan agama Islam.

Terbukti, dayah Babussalam Al Aziziyyah yang berdiri diatas lahan 2,5 Hektar mampu menyekolahkan para santri dayah dan mendayahkan sekolah. 

Haekal Afifa & Fauzi Cut Syam